Monday, April 16, 2012

KANSER RASUAH DALAM TUBUH NEGARA

roni Negeri Korup

Semua orang pasti tahu bahwa penyakit terparah negeri ini adalah budaya korupsi, suap, dan kolusi. Koran Singapura The Straits Times sekali waktu pernah menjuluki Indonesia sebagai the envelope country, karena segala hal bisa dibeli, entah itu lisensi, tender, wartawan, hakim, jaksa, polisi, petugas pajak atau yang lain. Pendek kata segala urusan semua bisa lancar bila ada “amplop”.

Hasil survei terbaru Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menempatkanIndonesia sebagai negara terkorup dari 16 negara se Asia Pasifik. Indonesia terkorup dengan skor 8,32 atau lebih buruk jika dibandingkan dengan Thailand (7,63). Sedangkan negara yang paling bersih dari korupsi adalah Singapura dengan skor 1,07.

Ini tentu saja sebuah ironi. Bukankah negeri ini adalah negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia? Tetapi mengapa justru menjadi negeri yang paling korup? Bukankah pula ajaran Islam melarang dengan keras dan bahkan mengutuk perbuatan korupsi, suap, dan kolusi? Apakah umat Islam di negeri ini tidak mengetahui hal itu?

“Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan batil, dan jangan pula kamu serahkan harta itu sebagai suapan kepada para penguasa supaya kamu dapat memakan sebagian harta dengan cara berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 189)

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27).

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang kami pekerjakan pada suatu jabatan, kemudian kami beri gaji, malahan yang diambilnya selebih dari itu, berarti suatu penipuan.” (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat Imam At-Turmudzi, Rasulullah saw bersabda, Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap (HR. Tirmidzi). Imam Ahmad dan Hakim juga meriwayatkan hadits: “Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan yang menjadi perantara.”

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud, diceritakan bahwa Rasulullah saw pernah mengutus seorang pemungut zakat bernama Ibnul Atabiyah. Sang pemungut zakat tersebut ternyata menerima pemberian harta dari orang yang ia pungut zakatnya, lalu berkata kepada Rasulullah: ”Wahai Rasulullah, ini untukmu, sedangkan yang ini hadiah mereka untukku.” Mendengar hal itu, wajah Rasulullah pun memerah dan berkata dengan penuh kemarahan kepada sang pemungut zakat: ” Tidak pantas seorang petugas yang kami utus datang dan berkata, “Ini untuk Anda, sementara ini adalah hadiah yang diberikan untuk saya.” Mengapa ia tidak duduk-duduk saja di rumah bapak dan ibunya, lalu memperhatikan, apakah ia akan mendapatkan hadiah atau tidak?” Kemudian Rasulullah melanjutkan: ”Demi Allah, siapa saja di antara kalian yang mengambil sesuatu yang bukan haknya, niscaya nanti di hari Kiamat ia akan menghadap Allah sambil memikul apa yang diambilnya di dunia. Demi Allah, aku tidak ingin melihat salah seorang di antara kalian yang menghadap Allah dengan memikul unta, lembu atau kambing yang mengembek.” Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih kedua ketiaknya sambil bersabda: ”Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?”

Rasulullah saw juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa yang mengambil hak orang lain walaupun hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan di lehernya (pada hari Kiamat nanti) seberat tujuh lapis bumi.”

Mencari Solusi

Membicarakan masalah memang penting. Tetapi yang lebih penting lagi adalah mencari solusinya. Berikut ini beberapa solusi untuk menyembuhkan penyakit korupsi, suap, kolusi, dan praktek mafia di negeri ini.

Pertama, memperkuat keimanan dan budaya malu.

Bagaimanapun juga, keimanan adalah benteng terbaik untuk mencegah perbuatan menipu. Karena orang yang imannya kuat takut terhadap adzab Allah dan merasa senantiasa diawasi oleh Allah meski tidak ada manusia yang melihatnya. Adapun rasa malu adalah bagian dari iman, yang tidak boleh hilang dari diri seorang mukmin. Jika orang-orang Jepang yang notabene nonmuslim saja memiliki budaya malu yang kuat, bagaimana mungkin kita di negeri ini yanbg mayoritas muslim justru ’rai gedheg’, ’muka badak’, dan tidak punya rasa malu?

Kedua, sistem penggajian yang layak.

Sebagai manusia biasa, para pejabat/birokrat tentu memerlukan uang untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Untuk itu, agar bisa bekerja dengan tenang dan tak tergoda untuk berbuat curang, mereka harus diberi gaji dan fasilitas yang layak. Rasulullah saw. Bersabda, Siapa yang bekerja untukku dalam keadaan tidak beristri, hendaklah menikah; atau tidak memiliki pelayan, hendaklah mengambil pelayan; atau tidak mempunyai rumah, hendaklah mengambil rumah; atau tidak mempunyai tunggangan (kendaraan), hendaknya mengambil kendaraan. Siapa saja yang mengambil selain itu, dia curang atau pencuri!” (HR Abu Dawud). Namun ini juga bukan satu-satunya solusi, karena manusia itu cenderung untuk tidak pernah puas hingga tanah menyumpal mulutnya (yakni mati). Kita lihat sendiri, betapa banyak para pejabat yang gajinya sudah banyak tapi tetap saja melakukan korupsi.

Ketiga, pembuatan sistem, birokrasi, dan hukum yang antikorupsi dan antikolusi, misalnya hukum yang melarang segala bentuk pemberian suap ataupun hadiah (gratifikasi) kepada pejabat atau hakim.

Rasulullah saw bersabda, “Hadiah yang diberikan kepada para pejabat adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kufur” (HR Imam Ahmad).

Keempat, penghitungan kekayaan pejabat dan pembuktian terbalik.

Orang yang melakukan korupsi, tentu jumlah kekayaannya akan bertambah dengan cepat. Meski tidak selalu orang yang cepat kaya pasti karena telah melakukan korupsi. Bisa saja ia mendapatkan semua kekayaannya itu dari warisan, keberhasilan bisnis atau cara lain yang halal. Tapi perhitungan kekayaan dan pembuktian terbalik sebagaimana telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab menjadi cara yang bagus untuk mencegah korupsi. Semasa menjadi khalifah, Umar menghitung kekayaan para pejabat di awal dan di akhir jabatannya. Bila terdapat kenaikan yang tidak wajar, yang bersangkutan, diminta membuktikan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu didapat dengan cara yang halal. (Lihat: Thabaqât Ibn Sa’ad, Târîkh al-Khulafâ’ as-Suyuthi).

Kelima, hukuman yang berat.

Tindak pidana korupsi termasuk dalam kelompok tindak pidana takzir. Oleh sebab itu, penentuan hukuman, baik jenis, bentuk dan jumlahnya diserahkan kepada pemerintah, dalam hal ini lembaga hukum dan peradilan. Penentuan hukuman terhadap koruptor harus mengacu kepada tujuan syarak (maqashid asy-syari’ah), kemaslahatan masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan, dan situasi serta kondisi sang koruptor, sehingga koruptor akan jera melakukan korupsi, dan hukuman itu juga bisa menjadi tindakan preventif bagi orang lain. Menurut Abdul Qodir Audah, Abdul Aziz Amir, dan Ahmad Fathi Bahnasi, ketiganya pakar Hukum Pidana Islam, hukuman takzir bisa berbentuk hukuman paling ringan, seperti menegur pelaku pidana, mencela atau mempermalukan pelaku, dan bisa juga hukuman yang terberat, seperti hukuman mati. Nah, kalau kita melihat praktek korupsi yang sudah begitu membudaya dan mengakar di negeri kita ini, sudah selayaknya diberlakukan hukuman yang paling berat agar bisa memberikan efek jera, dan bisa memutus budaya korupsi yang sudah seperti lingkaran setan ini.

Keenam, penegakan hukum secara tegas dan tanpa pandang bulu. Percuma saja hukum dibuat jika hanya untuk dilanggar. Bagaimana mungkin di negeri ini pencuri seekor ayam dan bahkan satu buah semangka dihukum penjara berbulan-bulan, sementara koruptor milyaran atau bahkan triliunan rupiah bisa bebas dari jeratan hukum? Hukum baru bisa berfungsi sebagai hukum jika diterapkan secara tegas dan tanpa pandang bulu. Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia, ketahuilah bahwa kehancuran umat terdahulu adalah karena mereka tidak menegakkan hukum dengan adil. Jika yang mencuri – berperkara – dari golongan kuat dan terpandang, mereka membiarkannya. Namun jika yang mencuri itu orang yang tidak punya, mereka secara tegas menegakkan hukumnya. Demi Allah, jika Fatimah putri Muhammad – anak beliau sendiri – mencuri, pasti saya potong tangannya.” (HR Bukhari)

Ketujuh, teladan dari para pemimpin. Orangtua dulu pernah berpesan ,“Jangan menyapu lantai, ketika masih membersihkan atap“. Bisa jadi pesan inilah yang perlu diamalkan oleh pemerintah kita. Pesan ini yang mungkin pas dengan watak masyarakat Indonesia yang masih cenderung paternalistik, menuntut pemberantasan korupsi dimulai dari atas. Kalau pemimpinnya memiliki keberanian dan kesungguhan untuk itu, saya yakin, korupsi dapat ditekan atau dikurangi, bahkan dihilangkan. Ini juga sejalan dengan pepatah bijak yang artinya “manusia itu mengikuti agama pemimpin mereka”. Jika pemimpinnya bersih, yang dipimpin juga akan bersih atau setidaknya dapat diharapkan untuk menjadi bersih. Khalifah Umar Bin Abdul Aziz pernah memberikan teladan yang sangat baik sekali ketika beliau pernah mematikan fasilitas lampu di ruang kerjanya pada saat menerima anaknya. Hal ini dilakukan karena pertemuan itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan negara.

Kedelapan, kesadaran kolektif dan kontrol publik. Bagaimanapun juga, harus ada kesadaran kolektif seluruh rakyat negeri ini mengenai pemberantasan korupsi, karena penyakit ini sudah mewabah dengan hebat. Tidak cukup kesadaran ini hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Demikian pula, masyarakat harus secara aktif dan terus-menerus mengontrol para pejabat agar tidak melakukan korupsi. Dalam hal ini, peran media sangat penting, tanpa harus terkotori oleh berbagai manipulasi dan akrobat politik. [Abdur Rosyid]

RELEVANSI DAS KAPITAL

RELEVANSI DAS KAPITAL

Posted by gue pada 16 Oktober 2006

DOWNLOAD TULISAN INI

Mengenang Perempuan dan Anak-anak yang telah Dipersembahkan di Altar Kapitalisme:

Relevansi Das Kapital bagi gerakan-gerakan kemasyarakatan

(Social Movements) di Indonesia

Oleh George Junus Aditjondro

HARI ini, Senin, 18 September 2006, kita berkumpul di Gedung Serba Guna di kampus Unika Parahyangan, Bandung, untuk meluncurkan Buku II dari magnum opus Karl Marx, Das Kapital. Buku II ini telah selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Oey Hay Djoen dan diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra, penerbit buku-buku Pramudya Ananta Toer di Jakarta.

Kita ingin melakukan refleksi, apa relevansi (kepenadan) sebuah buku, yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Jerman di tahun 1885, dua tahun setelah meninggalnya salah seorang pelopor gerakan Kiri, bagi kita, yang hidup di Indonesia, lebih dari seabad kemudian.

Sebelumnya, mari kita renungkan kembali, suka-duka Marx dalam menghasilkan karya besar itu. Seperti kita ketahui, Das Kapital, Capital dalam bahasa Inggris, atau Kapital, dalam bahasa Indonesia terdiri dari tiga jilid.

Jilid pertama diterbitkan tahun 1867, dan masih ditulis oleh Karl Marx sendiri, sambil terus menulis naskah-naskah persiapan untuk Jilid kedua dan ketiga, yang baru dapat disunting dan diterbitkan oleh sahabat dan teman seperjuangannya, Friedrich Engels, setelah Marx meninggal.


Jilid kedua, aslinya juga dalam bahasa Jerman, diterbitkan tahun 1885, sedangkan jilid ketiga, juga dalam bahasa Jerman, baru diterbitkan tahun 1894. Ketiga jilid Kapital itu merupakan hasil studi intensif di British Museum di London, selama 17-20 tahun, semenjak Marx bersama keluarganya hijrah ke London, tahun 1849.

Studi kepustakaan itu dilakukannya dalam kemiskinan yang luar biasa, di mana ‘cakar ayam’ Marx ditulis kembali oleh Jenny von Westphalen, isteri Marx, yang meninggal dalam kemiskinan dan kesehatan buruk, dua tahun sebelum Marx.

Juga tiga dari enam orang anak Marx – Jenny Jr, Franziska, dan Edgar — meninggal, akibat kondisi tempat tinggal mereka yang begitu buruk. Maklumlah, Marx praktis bekerja purna waktu untuk penulisan buku itu, dengan hanya mengandalkan honorarium sebagai koresponden New York Daily Tribune serta bantuan finansial Engels.

Selain Jenny, anak bungsu mereka, Eleanor (“Tussy“), membantu Marx menulis naskah buku itu. (http://www.spartacus.schoolnet.co.uk/TUmarx.htm)
Didahului oleh beberapa karya lain, yakni Manifesto of the Communist Party (1847-8, yang ditulis bersama Engels), Grundrisse (1857-8), A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), dan ketiga jilid Theories of Surplus Value (1861-3), ketiga jilid Das Kapital merangkum seluruh teori ekonomi Marx, sebuah kritik menyeluruh terhadap sistem ekonomi kapitalis.

Sementara fokus Jilid 1 pada industri manufaktur, dengan tokoh-tokohnya para buruh dan industrialis, Jilid 2 lebih terfokus pada pasar, dengan tokoh-tokohnya ara pemilik uang atau peminjam uang, pedagang besar, pedagang sedang, dan kaum wiraswasta di berbagai bidang khusus, yang disebut oleh Mandel “functional capitalists”, seperti para pengusaha transportasi, pengusaha pergudangan, dan para banker (1978: 14).

Selanjutnya, Jilid 3 memperlebar fokus sorotan dengan rumus “trinitas” aktor dan faktor ekonomi, yakni kapital yang menghasilkan laba, tanah yang menghasilkan sewa tanah, dan buruh yang hanya mendapatkan upah (Marx 1991c: 953-970 (Bab 48). Jilid ketiga juga berbicara tentang empat kelompok kelas penguasa, yakni kapitalis industri, kapitalis perdagangan, bank, dan kapitalis pemilik tanah.

Sedangkan lima kategori pendapatan, adalah upah, laba sektor industri, laba sektor perdagangan dan bank, bunga bank, dan sewa tanah, yang dapat diringkas menjadi tiga jenis pendapatan, yakni upah, laba dan sewa tanah (Mandel 1991: 64).

Pisau analisis yang digunakan oleh Marx, yakni moda produksi (mode of production), mulai dipopulerkan oleh Marx & Engels dalam Manifesto Komunis, di mana mereka menggambarkan evolusi dari moda produksi feudal, moda produksi manufaktur, ke moda produksi industri modern (Tucker 1978: 474-5).[1] Secara garis besar, moda produksi adalah sistem ekonomi yang paling dominan dalam suatu formasi sosial.[2] Setiap sistem ekonomi, menurut Marx, merupakan hasil interaksi antara ‘kekuatan-kekuatan produksi’ (forces of production) dan ‘relasi-relasi produksi’ (relations of production), seperti yang diuraikannya dalam pengantar buku Contribution to the Critique of Political Economy, yang pertama terbit tahun 1859 (Tucker 1978: 4).

Konseptualisasi begini mencegah determinisme teknologis, yang lebih mementingkan forces of production, maupun determinisme ekonomis, yang lebih mementingkan relations of production, khususnya faktor modal dan manajemen (lihat Skema 1).

Dalam moda produksi kapitalis, komoditi dihasilkan dengan memeras nilai lebih (surplus value) dari kerja sang buruh yang membuat sang kapitalis semakin kaya sementara sang buruh semakin miskin. Yang dimaksud Marx dengan nilai lebih (surplus value) adalah selisih antara nilai komoditi dan upah yang diterima buruh untuk memproduksi barang itu, yang diapropriasi oleh pemilik modal.

Sementara itu, permintaan akan komoditi terpelihara oleh pemberhalaan (fetishism) komoditi, sebagaimana dikemukakan oleh Marx dalam Buku I Kapital. Yang dimaksud dengan konsep ini oleh Marx adalah produksi dan pertukaran (perdagangan) barang yang semata-mata dimotivasi oleh maksimalisasi keuntungan.

Marx menganggap ini ciri khas kapitalisme, di mana produksi barang untuk memenuhi permintaan pasar menjadi tujuan utama sang kapitalis, tanpa mempertimbangkan kebutuhan sosial dan keadilan sosial. Dalam proses ini, produsen dan pedagang sangat tergantung pada fluktuasi harga dan permintaan.


Akibatnya, kepentingan komoditi merajai seluruh hubungan sosial. Pemujaan komoditi juga diidentikkan dengan obsesi untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, untuk membeli semua barang yang dapat dibeli dengan uang itu, tanpa mengindahkan nilai-nilai lain (Marx 2004: 41-56; Wilczynski 1986: 89, 578).

Teori pemberhalaan komoditi merontokkan kepopuleran hukum “permintaan & penawaran” yang begitu dipercaya oleh para ekonom liberal, walaupun secara tidak langsung teori “pemberhalaan komoditi” merupakan dasar bagi teori pemasaran yang sangat menggantungkan diri pada iklan.

Sebab “permintaan” (demand) nyatanya sangat tergantung pada usaha “penciptaan” permintaan oleh industri periklanan. Lebih jauh lagi, “permintaan” juga ikut diciptakan oleh lembaga-lembaga promosi hutang luar negeri, yang ikut mendorong pemasaran produk-produk dari negara-negara kapitalis lanjut ke negara-negara miskin, sehingga mereka semakin dalam terjerat dalam hutang.

Secara teoretis, popularitas teori supply & demand itu, yang masih dipertahankan oleh Paul Samuelson, dirontokkan oleh Marx dalam Buku II Kapital, dengan menunjukkan bahwa permintaan akan komoditi tertentu tidak hanya ditentukan oleh konsumen, tapi juga oleh pebisnis, yang ikut membeli tanah, tenaga kerja, dan barang modal (capital goods), kemudian menjualnya kembali kepada publik (Mandel 1991a: 22-23).

Namun Kapital tidak hanya memberikan gambaran sesaat atau anatomi sistem kapitalis. Mengikuti jejak pendahulunya, yakni buku Engels, The Condition of the Working Class in England, maka Buku I Kapital memberikan latar belakang sejarah terbentuknya moda produksi kapitalis di Inggris, sampai menjadi sistem ekonomi yang meliputi sebagian besar dunia yang dikuasai bangsa-bangsa Eropa.

Proses ini dimulai dengan perampasan tanah-tanah petani di daerah-daerah jajahan bangsa Inggris di Kepulauan Britania, khususnya Skotlandia, untuk dialihkan menjadi peternakan domba, guna mendukung industri wol yang mulai tumbuh di Inggris.

Proses ini menghasilkan urbanisasi dan pengangguran besar-besaran di kota-kota di Inggris, yang menghasilkan buruh murah yang serta merta dimanfaatkan oleh industri tekstil yang semakin berkembang berkat penemuan mesin uap oleh James Watt, serta pasokan kapas dari daerah jajahan Inggris di seberang laut, yakni Hindia.

Produksi tekstil yang digerakkan oleh mesin uap itu, menghancurkan industri pertenunan rakyat dengan ATBM-nya, yang semakin memicu urbanisasi di Inggris, dan menambah buruh murah – termasuk perempuan dan anak-anak – untuk melayani industri tekstil di Manchester dan kota-kota sekitarnya.

Proses industrialisasi itu juga memasuki sektor pertanian, di mana produksi gandum, wol, dan daging juga sudah dikuasai oleh para kapitalis pertanian. Dampak revolusioner dari industri berskala besar terhadap manufaktur, kerajinan tangan, dan industri rumahan, dikupas secara terinci dalam Buku I Kapital (lihat Marx 204: 479-517).

Sementara itu, para kapitalis industri mendorong Britania Raya (setelah Inggris mencaplok Skotlandia, Wales, dan Irlandia), menjadi negara imperialis, demi menyedot bahan mentah dari luar negeri sambil melempar produk-produk industri mereka ke mancanegara, terutama bekas negeri-negeri jajahan yang tetap dirangkul di bawah payung Persemakmuran (Commonwealth).

Sejarah kapitalisme Inggris ini dapat dibaca di Bagian 8 dari Buku Pertama Kapital (Marx 2004: 796-870), sedangkan ledakan kemiskinan yang diakibatkan oleh Revolusi Industri di Inggris, dapat dibaca di buku Engels, The Condition of the Working Class in England.

Buku itu merupakan hasil observasi langsung Engels di pusat industri tekstil di Manchester dan sekitarnya antara 1842-4, pada saat ia diutus oleh ayahnya, pemilik kilang kertas Ermen & Engels di Barmen, Jerman, untuk belajar bisnis di Manchester, di mana perusahaan keluarga itu punya kantor. Kendati datang dari latar belakang borjuis, Engels muda sudah menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap penderitaan kelas bawah di Wuppertal, di mana ia dilahirkan.

Kecenderungannya ke arah sosialisme menjadi semakin mantap setelah perjumpaan dengan Marx di Koeln (Jerman) dan Paris, masing-masing di tahun 1842 dan 1844. Selain itu, yang membantu pemahaman Engels terhadap penderitaan kelas pekerja di Inggris adalah Mary Burns, karyawati Ermen & Engels asal Irlandia, yang menjadi teman hidupnya sampai kematian Mary di tahun 1863 (Hobsbawm 1969; Dennehy 1996: 106; Tucker 1978: xv-xviii, 579).
Mari kita kembali ke Buku II Kapital yang sedang kita luncurkan siang ini.

Walaupun fokus buku ini adalah tentang sirkulasi uang dan komoditi, kepedulian Marx yang begitu besar terhadap eksploitasi kaum buruh tetap tampak di buku ini. Misalnya, dalam bagian tentang perawatan alat-alat produksi, Marx menggambarkan bagaimana buruh seringkali melakukan pembersihan mesin-mesin pada waktu jeda, atau pada saat mesin sedang berjalan, tanpa mendapat upah dan dengan risiko kecelakaan kerja (lihat hal. 195).

Jadi itu merupakan tambahan nilai lebih yang diperas oleh para kapitalis dari kaum proletar.
Karena berbicara tentang sirkulasi uang dan komoditi, Buku II ini juga berbicara secara terinci sekali tentang transportasi komoditi, dengan fokus per-kereta-api-an di Inggris, dan tentang sirkulasi dan ‘penimbunan’ uang secara ‘otonom’, lepas dari keterikatan pada sirkulasi barang.

Uraian Marx tentang per-kereta-api-an di Inggris, masih tetap relevan buat mereka yang mendalami ilmu ekonomi angkutan di masa kini, agar dapat memahami bagaimana korporasi-korporasi penyedia jasa angkutan menimbun keuntungan mereka sendiri. Sedangkan dalam berbicara tentang akumulasi kapital, khususnya uang, yang independen dari peredaran barang, Karl Marx sudah 65 tahun mendahului John Maynard Keynes, dengan berbicara tentang penimbunan uang (money hoarding).

Bahkan Marx sudah lebih maju dari pada Keynes, sebab ia membedakan antara investasi yang dapat menaikkan nilai lebih, atau investasi produktif, dan investasi yang tidak produktif (Mandel 1991a: 76). Dengan kata lain, fenomena jutawan-jutawan pialang saham seperti George Soros, sudah diantisipasi Marx lebih dari seratus tahun sebelumnya.
Bab 12 dalam Buku II Kapital, kedengaran seperti laporan industri properti masa kini di Indonesia.

Di situ Marx menggambarkan pergeseran pembangunan rumah atas dasar pesanan dari orang yang membutuhkan rumah kepada seorang kontraktor, ke pembangunan rumah untuk “pasar”. Jadinya, timbullah pasar “tanah” dan pasar “rumah”, yang sangat tergantung pada pasar “uang” alias penyediaan kredit oleh bank, serta perangsang-perangsang yang diberikan oleh pemerintah.

Di masa Marx menulis karya besarnya, lebih dari seabad yang lalu, ribuan vila mewah sudah mulai bermunculan di Belgravia, Tyburnia, dan tempat-tempat lain di seputar kota London (Marx 1991a: 311-312). Lebih dari seabad kemudian, kecenderungan ini masih terus berlangsung.

Dalam penelitian saya terhadap penyebaran harta jarahan keluarga dan kroni Soeharto di manca negara, muncul lapangan golf yang dikelilingi bungalow-bungalow mewah di dekat lapangan pacuan kuda di Ascott, di luar kota London, yang dimiliki Tommy Soeharto melalui dua orang proxynya (Aditjondro 2006b: 62-3; Time, 24 Mei 1999: 22).

Masih banyak lagi aspek perkembangan kapitalisme global masa kini yang sudah diantisipasi Marx dalam Buku II Kapital ini, lebih dari seratus tahun lalu. Yang paling penting, menurut hemat saya, adalah analisisnya terhadap inter-relasi antara dua arus, yakni arus uang dan arus komoditi.

Ini sejajar dengan penemuan berbagai studi non-Marxis yang menemukan, bagaimana korporasi-korporasi pertambangan migas AS yang terbesar didominasi oleh satu keluarga besar, yakni keluarga Rockefeller, sementara bank-bank AS yang terbesar, yang menguasai Wall Street, dikuasai oleh satu keluarga lain, yakni keluarga Morgan. Kedua ‘dinasti’ itu bersinerji menguasai kebijakan politik luar negeri AS, tidak peduli dari partai mana presidennya berasal (Gibson 1994; Medvin 1974).
Lalu, apa relevansi kedua buku Kapital yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bagi gerakan-gerakan kemasyarakatan (social movements) di sini? Pertama-tama, pisau analisis dan uraian historis Marx dan Engels dapat membantu pemahaman yang lebih kritis terhadap sejarah perkembangan kapitalisme di Indonesia, mulai dari kelahirannya s/d perkembangan neoliberalisme di Indonesia dewasa ini. Untuk menyoroti perkembangan industri tekstil di Indonesia, misalnya, kita dapat bercermin pada sejarah industri tekstil di Inggris, setelah penemuan mesin uap dan setelah pasokan kapas dari India terjamin. Gejala yang paralel dengan di Inggris, berupa hancurnya tekstil hasil ATBM dan hancurnya batik tulis setelah bertumbuhnya pabrik-pabrik tekstil yang berdiri selama dasawarsa pertama Orde Baru, dengan kucuran kredit bank-bank pemerintah, telah terdokumentasi di Indonesia. Bulan Oktober 1972 misalnya, 30 ribu perusahaan ber-ATBM di Pekalongan, Solo, Klaten, Sukoharjo, Jepara dan Tegal terpaksa gulung tikar, dengan melepas ribuan orang buruh mereka (Mortimer 1973: 79).
Selain untuk memahami sejarah perkembangan sektor-sektor ekonomi tertentu, kita juga dapat bercermin pada sejarah integrasi ekonomi Britania Raya, untuk mengkaji integrasi ekonomi Jawa dan luar Jawa. Industri pakaian wol di Inggris berkembang, setelah aneksasi Skotlandia dan transformasi daerah pertanian di pegunungan Skotlandia menjadi padang-padang penggembalaan domba. Proses serupa kemudian berulang di Australia. Saya ingat bahwa hal yang serupa tapi tak sama terjadi di akhir 1980-an, ketika seorang kroni Soeharto, Bob Hasan, berusaha menguasai semua subsektor pengolahan hasil hutan. Waktu itu provinsi-provinsi di luar Jawa dilarang mengekspor rotan mentah maupun tikar rotan, demi pengembangan industri perabot rotan di Jawa, yang dikuasai oleh Bob Hasan dan kawan-kawannya. Akibatnya, terjadi pengangguran dan kelaparan besar-besaran di Kalimantan Selatan dan Tengah.[3] Sampai-sampai, keempat Gubernur se Kalimantan bersama-sama menghimbau pemerintah pusat untuk mencabut larangan ekspor rotan itu.
Soal perkembangan neoliberalisme di Indonesia dewasa ini, sudah tidak dapat diragukan relevansi pisau analisis Marx, terutama dari Buku II Kapital , yang sangat susah dibaca oleh orang awam di bidang ekonomi moneter dan ekonomi keuangan internasional. Apalagi di buku ini berhamburan kutipan-kutipan Marx dari Adam Smith dan David Ricardo, yang karyanya belum diterjemahkan dan diajarkan secara lengkap di banyak fakultas ekonomi di Indonesia. Tapi kalau buku ini dapat diperas inti sarinya, yang meliputi apa yang saya sebut ‘otonomi’ uang dalam perdagangan internasional, serta kesejajaran antara penguasaan uang dan penguasaan komoditi strategis tertentu, seperti migas, maka manfaat membaca Buku II ini akan lebih terasa.
Evolusi kapital domestik menjadi kapital internasional, seperti yang dikupas Marx, juga penting untuk memahami perkembangan kapitalis domestik di Indonesia yang sudah menjadi kapitalis internasional.

Kembali lagi, saya akan gunakan contoh dari sektor migas. Perusahaan migas Britania yang tertua, Burmah Oil, didirikan oleh beberapa orang pengusaha Skotlandia dengan menambang minyak bumi di Burma, ketika Burma masih merupakan jajahan Britania, dan diperintah dari New Delhi.

Tahun 1910, Angkatan Laut Britania Raya mulai memonopoli pembelian minyak buminya pada Burmah Oil, sebab pesaingnya, Shell, telah bergabung dengan beberapa pengusaha Belanda menjadi Royal Dutch Shell. Burmah Oil ini kemudian melahirkan Anglo-Persian Oil Company, yang kemudian menjadi Anglo-Iranian, lalu British Petroleum (BP). Sekarang singkatannya bermakna, Beyond Petroleum. Burmah Oil sendiri masih bertahan, dengan menguasai 23% saham BP. Sampai krisis ekonomi Malam Tahun Baru 1974 membangkrutkan perusahaan itu, sehingga sahamnya diambilalih oleh Bank of England. Tapi sebelumnya, Burmah Oil telah mendapat konsesi pengeboran migas di lepas pantai Timor dan Australia, dan memasok 23 tanker LNG kepada Pertamina dengan harga yang sangat didongkrak (Longhurst 1959: 18, Sampson 1977: 69-71; Aditjondro 2000: 18, 29-30).

Dari sejarah Burmah Oil/BP itu, kita dapat membaca kebenaran tesis dasar Marx, yang menjelujuri seluruh batang tubuh Kapital, yakni bahwa fungsi negara dalam moda produksi kapitalis pada dasarnya adalah melayani kepentingan kapital. Paling tidak, ada korelasi yang kuat antara kepentingan negara dan kepentingan kapital.

Sementara itu, BP kini menguasai salah satu ladang gas alam terbesar di Nusantara, yakni ladang Tangguh di daerah Kepala Burung, Papua Barat, yang dilindungi kepentingannya oleh pemerintah Indonesia dengan pembentukan provinsi siluman, Irja Barat yang beribukota di Manokwari.

Bagaimana akumulasi kapital semakin memperbesar keuntungan para kapitalis, yang dekatan dengan penguasa politik, seperti halnya Burmah Oil/BP, dapat kita saksikan juga pada pertumbuhan Medco, maskapai pertambangan migas swasta terbesar di Indonesia. Perusahaan itu didirikan oleh pengusaha politikus Arifin Panigoro, bersama adik-adiknya dan besan Soeharto, alm.

Eddy Kowara Adiwinata. Di masa kejayaan Soeharto, perusahaan itu berekspansi ke negara-negara Asia Tengah (eks Uni Soviet), dengan memanfaatkan kedekatannya pada keluarga dan konco-konco Soeharto (Aditjondro 1998: 133-4).

Selama era pasca-Soeharto, Medco terus berkembang, di luar maupun di dalam negeri, saat Arifin Panigoro mulai aktif berpolitik dengan mendekati Amien Rais, lalu Megawati Soekarnoputri, dan sekarang mengambil jarak dari Megawati sambil membaca situasi politik di tahun-tahun mendatang.

Sementara itu, Soegiarto, mantan direktur keuangan kelompok Medco, yang masih memegang jabatan komisaris di beberapa anak perusahaan Medco, mendapat kedudukan strategis sebagai Menteri BUMN dalam Kabinet SBY-JK (Aditjondro 2006a).

Tidak kalah hebatnya dengan Medco adalah perusahaan-perusahaan milik keluarga Menko Kesra Aburizal (“Ical”) Bakrie, yang juga berkembang dengan pesat di bawah payung rezim Soeharto. Di masa kediktatoran Soeharto, adik-adik Ical ikut membangun perusahaan-perusahaan perdagangan minyak bersama anak-anak dan adik sepupu Soeharto di Hong Kong dan Singapura.

Setelah Soeharto turun takhta, Ical dan adik-adiknya melepaskan diri dari kelompok itu. Sebelumnya, sebagai ancang-ancang menghadapi era pasca-Soeharto, Bakrie Bersaudara sudah membangun imperium bisnis migas mereka sendiri. Indra Usmansyah Bakrie, adik Ical, tercatat sebagai Presiden Komisaris Kondur Petroleum S.A. yang berbasis di Panama.

Perusahaan itu dimiliki oleh PT Bakrie Energi, yang 95 % milik Bakrie Bersaudara dan 5% milik Rennier A.R. Latief, CEO dan Presdir Kondur Petroleum SA. Di Indonesia, perusahaan ini bergerak di bawah nama PT Energi Mega Perkasa Tbk., yang juga dipimpin oleh Renier Latief. Perusahaan ini sekarang menjadi perusahaan migas swasta nasional kedua terbesar setelah Medco.

Di mancanegara, bisnis minyak Bakrie bersaudara ini tetap bergerak dengan kendaraan Kondur Petroleum SA, yang beroperasi di Kroasia, Uzbekistan, Yaman dan Iran. Sebelumnya, sebagai operator Kawasan Production Sharing Selat Malaka (KPS-SM), Kondur telah berbisnis dengan Shell, yang menampung minyak mentah dari Selat Malaka untuk dimurnikan di Australia (idem).

Selain di Kondur Petroleum SA, Bakrie Bersaudara juga memiliki saham dalam PT Bumi Resources Tbk, yang telah mengalihkan usahanya dari perhotelan ke pertambangan migas dan bahan baku enerji lain. Diversifikasi usaha itu dilakukan dengan membeli 40% saham Korean National Oil Corporation (KNOC), yang menanam 4,4 juta dollar AS dalam unit pengolahan minyak TAC Sambidoyong di Cirebon. Selain di Indonesia, KNOC melakukan eksplorasi migas di sebelas negara lain, termasuk Libya, Afrika Selatan, Yaman, Vietnam, Venezuela, Peru dan Argentina (idem).
Sekian dulu analisis tentang akumulasi modal penguasa di Indonesia, mengikuti jejak Kapital. Sekarang marilah kita bicara tentang relevansi karya Marx itu bagi gerakan-gerakan kemasyarakatan (social movements) di Nusantara. Yang jelas, ketiga jilid Capital masih relevan sebagai amunisi bagi gerakan buruh di Indonesia. Sebab Buku I Kapital juga menggambarkan perjuangan buruh di Inggris – didukung oleh partai-partai sosialis yang mulai menjamur di sana — untuk merebut hak-hak mereka. Mulai dari pembatasan hari kerja s/d pembatasan jam kerja (lihat Bab X).
Pengetahuan mendalam tentang gerakan buruh diperoleh Marx dan Engels, berkat keterlibatan mereka sendiri dalam gerakan-gerakan itu. Atau, dalam kasus Engels, kedekatannya dengan seorang buruh di perusahaan keluarganya. Sebelum lahirnya gerakan buruh sosialis dan komunis, Marx dan Engels ikut melahirkan International Working Men’s Association di London pada tanggal 28 September 1864, yangdikenal dengan nama First International, bersama wakil-wakil buruh dari Inggris, Perancis, dan Jerman. Marx ikut aktif dalam dewan pimpian organisasi itu, tapi menolak jabatan Ketua. Alasannya, “sebagai pekerja intelektual, bukan pekerja kasar, ia tidak memenuhi syarat”. Baru setelah terbitnya Das Kapital, yang menaikkan popularitasnya di kalangan buruh, Marx mulai aktif “memimpin” organisasi itu dari London. Itu berlangsung sampai Kongres IWMA 1872 di Den Haag, Negeri Belanda. Celakanya, perpecahan antara kaum Marxis dan anarkis di bawah pimpinan Mikhail Bakunin mengancam kesatuan organisasi itu. Sampai-sampai kongres memutuskan, atas usul Marx, agar markas besar IWMA dipindahkan dari London ke New York. Ternyata keputusan itu mematikan wadah buruh Marxis internasional yang pertama itu (Tucker 1978: xxxiv-xxxv; Guerin 1989: 111-4; Magnis-Suseno 2001: 54).
Selanjutnya, apa kontribusi Kapital bagi gerakan perempuan? Saya tidak sependapat dengan berbagai literatur, yang hanya merujuk ke karya Engels, Origin of the Family, Private Property, and the State (1845) sebagai satu-satunya kontribusi pemikiran ‘dwitunggal’ Marx & Engels bagi gerakan perempuan (lihat misalnya Putnam-Tong 1998: 150). Dalam Buku I Kapital, mengecam keras eksploitasi perempuan dan anak-anak oleh industri garmen dan tekstil di Inggris (hal. 252-5, 303-4, 416-26).
Secara khusus Marx mengulas kematian Mary Anne Walkley (20 tahun), tukang jahit topi perempuan dalam salah satu perusahaan busana terbaik di kota London, milik seorang nyonya yang terhormat, Elise. Demi menyiapkan pesta dansa untuk menghormatan bagi Puteri Wales, Mary bersama 60 orang buruh perempuan lain bekerja 26,5 jam tanpa henti, 30 orang dalam satu kamar, yang hanya memasok 1/3 dari jumlah udara yang diperlukan. Di malam hari, mereka tidur berduaan dalam salah satu lubang pengap. Walhasil, Mary jatuh sakit pada hari Jumat, dan meninggal pada hari Minggu, tanpa dapat menyelesaikan bagiannya. Dokter yang terlambat dipanggil menyimpulkan di depan hakim pemeriksa mayat: “Mary Anne Walkley meninggal, karena jam kerja yang panjang, dalam ruang kerja yang penuh sesak, dan tidur dalam kamar yang terlalu sempit dan berventilasi buruk sekali” (Marx 2004: 253).
Masih banyak lagi penderitaan buruh yang diuraikan Marx dalam Buku I Kapital, yang terutama terfokus pada buruknya kondisi ‘hiperkes’ (higiene perusahaan & keselamatan kerja) di berbagai perusahaan. Termasuk penderitaan buruh perempuan di pabrik-pabrik pemintalan rami, pengelantangan, katun, wol, sutera, dan tembikar, bahkan di tambang batubara (Marx 2004: 223, 256, 300) (lihat Tabel 1, dari Marx 2004: 3000). Tema ini kembali kita jumpai dalam volume ketiga dari Capital, yang mengecam ironi bahwa para produsen busana mewah memperlakukan para buruh dan penjahitnya dengan sangat tidak manusiawi (lihat Marx 1991b: 189-90). Berbagai kritik Marx ini senafas dengan apa yang dikemukakan Engels dalam The Condition of the Working Class in England, yang terbit dua dasawarsa sebelum Das Kapital.[4]
Kendati demikian, Rosemarie Putnam Tong masih menulis: “Meskipun Bapak Marxisme tidak mempertimbangkan opresi terhadap perempuan dengan keseriusan yang sama dengan pertimbangannya atas opresi terhadap pekerja, beberapa dari mereka [para Marxis] menawarkan penjelasan mengapa perempuan teropresi sebagai perempuan” (1998: 150). Opresi terhadap perempuan tidak dapat diisolasi dari opresi terhadap buruh, yang juga meliputi perempuan. Namun memang harus diakui, bahwa fokus Marx lebih ke dampak hiperkes dari Revolusi Industri di Inggris, dengan hanya sedikit menyinggung aspek lain, yang kadang-kadang tersembunyi di catatan kaki. Misalnya, dalam catatan kaki No. 2 di halaman 597 dari Buku I Kapital ada indikasi tentang kesenjangan antara upah buruh perempuan dan laki-laki di Inggris, dengan menyebutkan bahwa upah seminggu untuk buruh perempuan pembuat paku “hanya 5 shilling”. Di halaman sebelumnya, juga di catatan kaki, ada rujukan tentang pelecehan seksual terhadap buruh perempuan di perusahaan penjilidan buku di London City, di mana majikan memikat mereka dengan upah ekstra dan dengan uang buat makan malam di warung sebelah pabrik. “Dengan demikian, diciptakan kemesuman yang luar biasa di antara “jiwa-jiwa muda yang abadi” ini”, tulis Marx. Ironisnya, seperti ditambahkan di catatan kaki itu, perusahaan itu “menjilid banyak Kitab Injil dan lain-lain kitab keagamaan” (Marx 2004: 596).

Dampak hiperkes dari penindasan buruh, termasuk buruh perempuan dan anak-anak di Inggris, lebih dari seabad lalu, sangat berguna untuk membuka mata para aktivis lingkungan di Nusantara. Barangkali, karena latar belakang kelas menengah serta obsesi dengan “alam” membuat para aktivis lebih dekat dengan petani dan bangsa-bangsa pribumi (indigenous peoples), dan kurang memperhatikan kondisi buruh di dalam pabrik, tambang, perkebunan, kilang kayu lapis, industri dan armada perikanan, serta buruh konstruksi proyek-proyek raksasa, seperti bendungan (Aditjondro 1993).

Padahal, bagaikan “burung kenari dalam tambang”, buruh adalah manusia yang pertama kali menderita atau meninggal dunia akibat buruknya mutu lingkungan di basis-basis produksi tersebut.

Walhasil, dari seluruh makalah ini dapat disimpulkan, bahwa karya besar Karl Marx, Das Kapital, yang ditulis lebih dari seabad lalu, tetap relevan bagi perjuangan anti-kapitalisme di Indonesia.

Pertama, Buku I Kapital yang memberikan dasar-dasar untuk memahami dinamika kapitalisme, termasuk sejarahnya yang bermula dari pencaplokan tanah-tanah pertanian di Skotlandia s/d ekspansinya menjadi sistem ekonomi dunia, sangat relevan untuk memahami pertumbuhan kapitalisme di Nusantara, sementara Buku II memperlebar pemahaman kita terhadap sistem kapitalisme global.

Kedua, khusus bagi gerakan buruh, perjuangan buruh dan partai-partai Kiri di Inggris untuk menghapuskan buruh anak-anak serta usaha menentukan jam kerja maksimal, yang dikemukakan dalam Buku I, serta penderitaan khusus buruh sektor angkutan yang dikemukakan dalam Buku II, sangat relevan sebagai sumber inspirasi bagi gerakan buruh di Nusantara. Ketiga, perhatian Marx terhadap penderitaan buruh perempuan dan anak-anak di berbagai sektor industri di Inggris, lebih dari seabad yang lalu, sangat berguna untuk memberikan dimensi ‘kelas pekerja’ bagi gerakan perempuan dan gerakan lingkungan di Nusantara, sambil menciptakan platform bersama gerakan buruh.

Yogyakarta, 16 September 2006

Catatan:

[1] Sesungguhnya, ‘bibit’ pemikiran untuk membedakan masyarakat berdasarkan moda produksinya, dengan kata lain, berdasarkan sistem ekonominya,sudah ada di karya Marx bersama Engels, The German Ideology, yang ditulis antara tahun 1845-6. Di situ mereka membedakan tiga tahap perkembangan masyarakat dilihat dari pembagian pekerjaan, yakni sistem tribal (suku); sistem komunal purba di mana beberapa suku sudah bergabung ke dalam satu ‘kota’, karena kesepekatan maupun penundukan; dan sistem feudal yang lahir dari sistem sebelumnya, di mana para bangsawan yang berkuasa memperluas sayap mereka ke desa-desa sekitarnya. Dalam tahap feudal itulah muncul kelompok-kelompok pengrajin yang bukan pemilik tanah dan juga tidak berdarah biru, yang merupakan embrio dari sistem kapitalis (Tucker 1978: 151-3). Selanjutnya, dalam pengantar Contribution to the Critique of Political Economy, yang diterbitkan oleh Marx tahun 1859, Marx, “secara garis besar” (in broad outlines), membedakan moda produksi Asiatik, moda produksi kuno, moda produksi feudal, dan moda produksi borjuis modern (Asiatic, ancient, feudal, and modern bourgeois modes of production) (Tucker 1978: 5). Dari sinilah berkembang penafsiran, bahwa teori perkembangan ekonomi Marx bersifat linier dan Eropa-sentris, seolah-olah setiap masyarakat di dunia harus berevolusi melalui tahap-tahap tersebut. Pandangan yang linier dan Euro-sentris itu telah ditolak oleh sejumlah Marxis Afrika, seperti Amilcar Cabral dan Samir Amin. Cabral, seorang pemikir dan pejuang kemerdekaan Guinea-Bissau dan Cabo Verde, berpendapat bahwa negara-negara Afrika yang berada dalam moda produksi tribal, dapat langsung melompat ke moda produksi sosialis, tanpa harus melalui tahap feudal dan kapitalis.
[2] Dalam formasi sosial yang bernama Indonesia, hadir beberapa moda produksi secara simultan, yakni moda produksi tribal, moda produksi feodal, moda produksi agraris non-feodal, moda produksi agribisnis, dan moda produksi industri kapitalis. Tetapi semua produksi non-kapitalis itu terikat ke dalam satu moda produksi yang dominan, yakni moda produksi kapitalis.
[3] Ini terjadi di desa-desa di sekitar kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, di mana harga rotan anjlok dari Rp 650 ribu per ton menjadi hanya Rp 300 ribu akibat larangan ekspor rotan itu. Lihat Laporan Hasil Forum Refleksi & Inspirasi (FRI) V, 17-24 September 1988 di Kuala Kapuas, Kalimantan.
[4] Karya Engels, The Condition of the Working Class in England, oleh Ted Benton, seorang peneliti pemikiran Engels dianggap sebagai perintisan “sosialisme ekologis”, karena perhatiannya yang sangat jeli terhadap kondisi kehidupan para buruh di Inggris, baik di tempat tinggal maupun di tempat kerja mereka. Lihat Benton 1996. Karena itu, tidak ada salahnya untuk menggali dimensi ekologi dari karya-karya Engels dan Marx, sebagai amunisi tidak hanya bagi gerakan perempuan, tapi, seperti yang akan kita lihat sebentar lagi, bagi gerakan lingkungan di Nusantara.
[5] Di masa lalu, buruh-buruh tambang biasanya membawa burung kenari dalam sangkar bersama mereka, kalau turun ke tambang-tambang bawah tanah. Kondisi burung kenari itu mereka jadikan indikator, ada tidaknya gas-gas berbahaya di dalam tambang. Sebab burung itu lebih peka terhadap gas-gas tersebut ketimbang manusia. Kalau burung itu mulai sakit, apalagi mati, para buruh buru-buru berusaha keluar dari tambang, walaupun mereka belum mencium gas-gas yang berbahaya.

Pejuang yang Kalah dan Menang 1 dan 2


PEJUANG YANG KALAH DAN YANG MENANG 1

Setelah negara mencapai kemerdekaan selama 52 tahun masih ada lagi pertikaian, siapakah pejuang sebenar yang membawa negara ini mencapai kemerdekaan.

Bagi generasi muda yang lahir selepas merdeka tentunya akan timbul kekeliruan tentang sejarah kemerdekaan negara apabila masih ada yang mengatakan bahawa Umno Bukan Pejuang Kemerdekaan Sebenarnya .

Setahu saya UMNO tidak pernah pun mengaku yang parti UMNO sahaja yang memperjuangkan kemerdekaan negara ini. Malah Tunku Abdul Rahman pernah mengucapkan terima kasih kepada PKM semasa Rundingan Baling 1955 yang menyatakan penentangan bersenjata PKM boleh membantu mempercepatkan kemerdekaan di mana kesungguhan rakyat daripada pelbagai haluan dan ideologi telah memberi tekanan kepada pihak British.

Malah sehingga kini buku teks matapelajaran sejarah daripada tingkatan 2 hingga 6 bagi tajuk sejarah Malaysia sememangnya tidak menggenepikan, meminggirkan atau memadam fakta sejarah yang melibatkan perjuangan dan pencetus semangat nasionalisme di Tanah Melayu.

Cuma sejarah itu ditulis oleh pihak yang menang dan tidak dapat dinafikan memang terdapat peristiwa-peristiwa penting yang dicerita lebih memihak kepada kerajaan yang merealisasikan kemerdekaan itu.

Tentulah sukar untuk mencari penulisan yang ideal dan adil untuk semua pejuang tetapi ianya jauh lebih baik jika ia ditulis oleh bekas penjajah yang langsung tidak mengiktiraf mereka sebagai pejuang malah dilabelkan sebagai penderhaka, pengkhianat dan pengganas.

Pihak kerajaan yang ada masih lagi membuka ruang dan peluang untuk rakyat mencungkil dan menyelongkar peristiwa-peristiwa atau tokoh-tokoh yang terbabit dalam perjuangan menuntut kemerdekaan.

Buku-buku masih banyak ditulis tentang sejarah negara malah bekas-bekas ahli PKM masih boleh membina blog masing-masing yang masih jelas penulisnya teguh dengan prinsip perjuangan mereka. Baca di sini dan di sini.

Walaupun PKM sudah meletakkan senjata dalam Perjanjian Damai di Hadyaai pada tahun 1989 tetapi ideologi komunisme dan sosialisme masih hidup subur di kalangan pendokong-pendokongnya.

Masih banyak ruang bacaan untuk rakyat membuat penilaian dan hipotisis sendiri tentang latar belakang sejarah perjuangan kemerdekaan dan kebangkitan semangat nasionalisme di Tanah Melayu.

Sejak saya di alam persekolahan lagi, semangat saya tidak pernah padam untuk mengiktiraf pejuang-pejuang dan pencetus semangat nasionalisme khususnya kebangkitan penentangan berdarah oleh Datuk Maharaja Lela dan Tok Sagor di Perak, Tok Janggut di Pasir Puteh, Mat Kilau dan Tok Bahaman di Pahang, Dol Said di Naning, Abd.Rahman Limbong di Telemong, Rosli Dhobi di Sarawak dan lain-lain.

Kesemua mereka adalah pencetus kepada kebangkitan semangat kebangsaan untuk membebaskan negara ini daripada penjajah. Hampir kesemuanya berjuang hingga ketitisan darah terakhir.

Kesemua tokoh-tokoh ini dicap sebagai pengganas dan penderhaka oleh British tetapi apabila sejarah negara di tulis semula kesemua mereka adalah pejuang-pejuang.

Walaupun penentangan yang dilakukan tidak memperoleh apa-apa kemenangan tetapi perjuangan inilah yang telah menyubur dan memercikkan api nasionalisme.

Gerakan nasionalisme seperti ini bertunjangkan misi pembentukan negara bangsa yang merdeka, bebas dari penjajah dan mentadbir sistem pemerintahan negara sendiri dengan acuan kepimpinan sendiri.

Langkah paling berkesan dalam menyemarakkan idea nasionalisme kemerdekaan diperhebatkan melalui sebaran media massa. Pada masa itu, mata pena amat tajam daripada muncung senapang.

Justeru itu, kita tidak boleh mengkesampingkan peranan Syed Sheikh al-Hadi, Sheikh Tahir Jalaluddin, Ustaz Abu Bakar al-Baqir, Abdul Kadir Adabi, dan Abdul Rahim Kajai serta ramai tokoh lagi. Terdapat tiga golongan yang menjadikan mata pena sebagai senjata menyemarakkan nasionalisme.

Pertama, golongan agama lepasa Al Azhar, Mesir dan Timur Tengah yang lebih dikenali sebagai Gerakan Islah.

Kedua, golongan sekular berpendidikan Inggeris.

Ketiga, golongan sekular berpendidikan Melayu.

Mereka mengeksploitasi keilmuan melalui penerbitan akhbar menentang British secara kreatif tanpa dihidu oleh British pada peringkat awalnya.

Akhbar seperti al-Imam, Utusan Melayu (satu-satunya akhbar yang masih kekal sehingga kini), Seruan al-Azhar, Lembaga Melayu, Neracha, al-Ikhwan dan Lidah Benar (sekadar menyebut beberapa nama) adalah tempat para penulis berkarya menanamkan idea nasionalisme.Baca di sini untuk bacaan selanjutnya.

Saya tidak berasa tertipu dengan sejarah negara ini kerana saya mengenali semua nama-nama pejuang-pejuang dan tokoh-tokoh yang memberi sumbangan kepada kemerdekaan negara.

Tidak ada yang tersorok dan tersembunyi kecuali jika saya ingat mendapat maklumat tambahan maka saya akan mencari buku-buku yang berkaitan dan melayari internet untuk menambah pengetahuan peribadi. Sebagai seorang pembaca, maka sewajarnya kita meletakkan diri kita di zaman tersebut sekurang-kurangnya kita berlaku adil untuk kita memahamkan sesuatu peristiwa serta kesan-kesannya.

bersambung...........

Amir Hamzah
Batu Pahat
www.segalanyamungkin.blogspot.com



Pejuang Yang Menang Dan Yang Kalah (Siri 2)



Imperialisme British terhadap Malaya, bukan sahaja telah merantai kebebasan dan memunggah kekayaan kita keluar demi melampias kuasa empayar yang berpusat di England, malah ia juga telah meragut banyak nyawa pejuang-pejuang kemerdekaan. Propaganda British bahawa pejuang-pejuang yang tidak sehaluan dengannya dikatakan penganas dan pengkhianat telah berjaya meracuni pemikiran rakyat. Nasib buruk ini diterima oleh Datuk Maharaja lela, Tok Janggut, Tok Bahaman, Mat Kilau sebagai penganas dan pemberontak.

Sebelum perjuangan mendapat kemerdekaan ini dipelopori oleh UMNO dan rakan-rakan parti Perikatan kita juga tidak boleh menafikan sumbangan Kesatuan Melayu Muda(KMM)seawal tahun 1930an. Pengikut-pengikut KMM banyak terpengaruh dengan buku-buku daripada Indonesia serta pemimpin-pemimpin revolusioner Indonesia antaranya Pak Jenain (Sutan Jenain), Alimin, Musso dan Suparto.KMM juga yang mempelopori semboyan “Merdeka”. Tokoh-tokoh pemimpin KMM adalah seperti antaranya Dr Burhanuddin Al-Helmy, Ibrahim Yaacob, Mustapha , Ishak Hj Mohamad(Pak Sako) , Ahmad Boestamam dan lain-lain.

Menurut Abdullah C.D bekas Pengerusi PKM, Keadaan masa itu sangat kemelut. Pokoknya ada dua perkembangan penting dari segi perjuangan rakyat. Pertama, PKM, yang ditubuhkan pada tahun 1930, telah menyusun sebahagian rakyat melancarkan perjuangan. PKM mempunyai pengaruh yang luas di kalangan orang Cina. Di kalangan orang Melayu dan India, tak ada kader, hanya pada penghujung perang, pengaruhnya mula meluas. Untuk melawan Jepun, PKM tubuhkan Tentera Anti-Jepun Rakyat Malaya (TAJRM /MPAJA) dan melancarkan perang gerila. PKM juga bekerjasama dengan British dan mendapatkan sedikit senjata.

Kedua, semasa awal pendudukan Jepun, KMM dibenarkan bergerak secara terbuka. KMM mengambil sikap bekerjasama dengan Jepun untuk melawan British demi kemerdekaan Malaya. Ini sama seperti yang dilakukan Sukarno di Indonesia. Setelah KMM diharamkan pada tahun 1942, Ibrahim Yaacob dan beberapa tokoh lagi menubuhkan Malai Gyu Gun, atau PETA, iaitu sebuah pasukan tentera Melayu yang mengambil kesempatan daripada kemudahan yang diberikan Jepun dengan tujuan mencapai kemerdekaan. Sebelum Ibrahim berundur ke Indonesia, beliau cuba mengatur beberapa orang membawa PETA bergabung dengan pasukan TAJRM untuk sama-sama melawan British. Sayangnya, kerana keadaan berubah, rancangan itu gagal.

Bagaimana pun KMM diharamkan pada tahun 1942 kerana pada tahun 1942, Mustapha Hussein bagi pihak KMM mengajukan tuntutan untuk merdeka kepada pihak Jepun. Selepas diharamkan ramai pemimpin KMM menyertai gerilya MPAJA dengan melakukan kerja propaganda untuk melawan Jepun.

Gerakan kebangsaan di kalangan orang Melayu selepas perang lebih bergelora. Cita-cita kemerdekaan KMM diteruskan oleh PKMM (Pertubuhan Kebangsaan Melayu Malaya). Kebanyakan penaja PKMM ialah bekas pemimpin dan anggota KMM dulu. Dalam PKMM, terdapat anggota daripada pelbagai aliran – nasionalis, agama, sosialis, komunis. Tapi, tak kira apa alirannya, mereka telah mengenepikan perbezaan dan dapat bersatu dan bekerjasama. Ini kerana satu tujuan dan matlamat yang anti-imperialis, anti-kolonialis dan cintakan kemerdekaan serta kebebasan. PKMM ditubuhkan pada bulan Oktober 1945 dalam kongres di Ipoh. Mokhtaruddin Lasso, Dr. Burhanuddin, Boestamam, Pak Sako, Abdullah C.D ramai lagi bertanggungjawab mendirikan parti politik orang Melayu untuk memperjuangkan kemerdekaan. PKMM berkembang pesat dengan anggota kira-kira 100,000 orang.

Selepas itu, UMNO ditubuhkan bulan Mei 1946 oleh Dato'Onn Jaafar di Istana Besar Johor Bahru. Semboyannya waktu itu bukan “Merdeka”, tapi “Hidup Melayu”. Dalam kongres perpaduan bangsa Melayu pada awal 1946, PKMM turut serta bersama UMNO. Tetapi pada masa itu, sudah timbul perdebatan besar atas isu “Non” dan “Ko”. PKMM ambil sikap “Non”, yakni tidak bekerjasama dengan penjajah British, mesti terus berjuang untuk kemerdekaan.

Sebaliknya pemimpin UMNO mengambil sikap “Ko”, iaitu bekerjasama dengan British. PKMM mengambil keputusan keluar daripada UMNO, dan terus membentuk gabungan pertubuhan-pertubuhan Melayu, lebih 60 buah semuanya, dalam Pusat Tenaga Rakyat atau PUTERA. PUTERA kemudian bergabung dengan AMCJA. Gabungan PUTERA-AMCJA ini merupakan barisan bersatu anti-British berbilang kaum yang paling luas memperjuangkan kemerdekaan. Gabungan ini telah mengemukakan Perlembagaan Rakyat untuk menggantikan perlembagaan Melayu Union, tetapi di tolak mentah-mentah oleh British.

Peristiwa penting kepada penyatuan Melayu adalah gagasan menentang Malayan Union oleh keseluruhan orang Melayu. Di dalam catatan sejarah Malaysia, Satu kongres Melayu yang menyatukan semua pertubuhan Melayu di Tanah Melayu diadakan pada 1 hingga 4 Mac 1946 atas cadangan Dato' Onn bin Jaafar. Dalam mesyuarat ketiga Kongres Melayu Se-Malaya itu, keputusan dicapai untuk menubuhkan sebuah parti politik iaitu UMNO. UMNO secara rasminya ditubuh pada 11 Mei 1946 dan melantik Dato' Onn bin Jaafar sebagai presiden pertama. Penentangan Malayan Union telah mencapai kejayaan dan Malayan Union ditukar kepada Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1948. Semboyan kata UMNO "Hidup Melayu" ditukar menjadi "Merdeka" selepas berjaya menentang Malayan Union.

Perlu juga ditulis bahawa "Malayan Union" ciptaan British, bertujuan merampas kuasa raja-raja dan langsung tidak menyentuh soal kemerdekaan Malaya. Oleh itu, PKMM menentangnya bersama-sama dengan UMNO dan lain-lain pertubuhan waktu itu. Disebabkan tentangan menyeluruh daripada seluruh umat Melayu inilah, rancangan Malayan Union British gagal.

Di Gunung Semanggol, terdapat tokoh-tokoh agama yang penting dan berpengaruh, seperti Ustaz Abu Bakar Al-Bakir, Mudir Maahad El-Ehya Assyarif. Tokoh-tokoh agama ini menubuhkan Parti Hizbul Muslimin yang bekerjasama dengan PKMM dan bergabung dalam PUTERA.
Gerakan PUTERA (pertubuhan orang Melayu)-AMCJA(persatuan bukan Melayu) mendapat sambutan begitu luas daripada sebahagian rakyat. Mogok dan hartal yang dilancarkan cukup berkesan. Semangat “Merdeka” berkobar-kobar. Keadaan ini menyebabkan British berasa gentar dengan gerakan golongan kiri ini.

Akibat tekanan pihak British sebahagian pemimpin dan pendokong PKMM telah menyertai gerakan gerila komunis. Parti Kuomintang dari China memainkan peranan yang penting untuk menyebarkan perfahaman komunis ke Tanah Melayu. Cawangan Kuomintang di Tanah Melayu diharamkan oleh British. Walau bagaimanapun, golongan komunis di Tanah Melayu menubuhkan Parti Komunis Nanyang tetapi diharamkan pada tahun 1930 kemudian menubuhkan pula Parti Komunis Malaya(PKM). Tujuan penubuhan PKM adalah untuk menghalau British keluar dari Tanah Melayu dan menubuhkan Republik Komunis.

Lawan kepada komunis adalah kapitalis yang memang menjadi anutan semua penjajah termasuk British. Sebab itu British sangat memusuh PKM dan mengistiharkan darurat daripada 1948-1960 bagi membenteras komunis sepenuhnya. Salah satu Rejimen PKM yang dianggotai oleh bekas-bekas pemimpin PKMM ialah Rejimen ke-10 yang ditubuhkan pada 21 Mei 1949. Antara pemimpinnya yang terkenal ada Abdullah CD, Rashid Maidin, Abu Samah Kassim, Syamsiah Fakeh, Musa Ahmad dan lain-lain. Mereka memilih kaedah untuk membebaskan negara ini melalui pertumpahan darah dan peperangan.

Di pihak UMNO pula, pemimpin-pemimpin mereka kebanyakannya adalah golongan yang berpendidikan barat atau dikenali sebagai golongan sekular berpendidikan Inggeris atau golongan kanan yang pro British. Pendekatan yang digunakan adalah perundingan dengan pihak British. Kaedah ini disenangi oleh pihak British tambahan lagi Dato' Onn dan Tunku Abdul Rahman sendiri sememangnya masak dan faham dengan perangai, budaya dan pemikiran British. Golongan ini boleh dikatakan sebagai golongan yang menang kerana melalui perundingan juga UMNO telah merealisasikan kemerdekaan kepada negara ini.

Bagi pihak golongan kiri yang mengambil pendekatan antiBritish dan menolak sebarang bentuk perundingan kecuali dengan mengangkat senjata seperti yang dilakukan oleh PKM tidak mendapat sokongan majoriti rakyat pada masa itu. Tambahan lagi,mereka berpendapat falsafah Marxis itu adalah satu senjata yang terbaik dalam perjuangan untuk kemerdekaan tanah air dan untuk kemajuan masyarakat umat manusia. Mereka juga berpendirian bahawa Marxisme itu bukan sebagai “dogma”, atau pegangan ketat dan kaku dan tidak boleh berubah, tetapi memadukannya sesuai dengan syarat dan keadaan di Malaya.

Mereka berpendapat dengan kurang sambutan dari kalangan orang Melayu kepada PKM adalah disebabkan anggapan bahawa Marxisme, tidak beragama atau menentang agama. Dan mereka juga mengatakan bahawa pandangan seumpama ini adalah racun dan hasutan penjajah supaya membenci kepada perjuangan PKM. Golongan kiri ini boleh dikategorikan sebagai golongan yang kalah. Kalah kerana tidak mendapat sokongan majoriti rakyat atas pendekatan dan ideologi yang mereka bawa. Mereka juga tidak boleh menafikan bahawa mereka walaupun 'berjuang' ke arah pembebasan negara ini pada hakikatnya mereka wajar akur bahawa akhirnya pendekatan yang dibawa oleh UMNO itu telah berjaya membawa satu angan-angan, cita-cita dan harapan itu menjadi kenyataan.

Soal tulen atau tidak perjuangan UMNO itu bukan sesuatu yang perlu dibahaskan. Namun UMNO tetap menerima hakikat bahawa perjuangan semua rakyat daripada pelbagai aliran dan fahaman sama ada nasionalis atau agama ke arah menyumbang kepada sentimen pembebasan dan kemerdekaan negara yang memuncak-muncak sehingga negara akhirnya merdeka pada tahun 1957. Suka atau tidak pihak yang menang itu mendapat kuasa yang turut diidam-idamkan oleh pihak yang kalah. Lebih zalim lagi jika mengatakan kerajaan yang telah terbentuk selama 52 tahun ini adalah warisan daripada penjajah kerana negara ini telah dibangunkan atas acuan kita sendiri.

Amir Hamzah
Batu Pahat

MENGAPA BRITISH ISYTIHAR DARURAT 1948

PAK SAKO


Ramai orang melihat Pengisytiharan Darurat pada 18 Jun 1948 sebagai suatu akta dan undang-undang mengawal keamanan. Bagi British adalah sebuah peperangan terhadap rakyat yang dilancarkan tanpa disedari. Atas nama kebebasan dan keamanan ; maka mudahlah aktivis politik progresif yang mengancam kedudukan Inggeris ditangkap dan dilumpuhkan.

Jika mengisytihar perang, Inggeris mungkin terikat dengan undang-undang perang antarabangsa termasuk Convention Geneva yang terpaksa mengambilkira soal peraturan dan hak asasi kemanusiaan. Justeru istilah ini telah digunakan dengan berkesan di banyak tanah-tanah jajahannya.

Undang ini juga pernah dipaksakan ke atas India dan Palestin sebagai alat mengawal kepentingan politik Inggeris dengan kuasa negara atau state power, menangkap pemimpin-pemimpin parti yang menentangnya dan melumpuhkan gerakan itu sekaligus.

Pengalaman British sekitar tahun 1890 – 1930 tatkala menghadapi tentangan dari pejuang patriotik Melayu seperti Dato’ Bahaman, Mat Kilau, Tok Gajah, Tok Janggut, Dato Sagor serta yang lainnya dalam Perang Bahaman, Perang Perak dan perang di Selangor telah memberi pelajaran berguna kepada Inggeris untuk mengguna satu kaedah yang boleh disandarkan atas nama negara.

Justeru Undang-Undang Darurat 1948 sebenarnya ialah alat yang dirancang awal bagi menggantikan istilah ‘perang’. Kaedah ini memberi kelebihan kepada British dalam semua aspek tanpa disedar.

Dato’ Bahaman pernah diburu oleh 800 tentera Inggeris-Melayu kerana menentang dasar cukai baru ‘Wise’ di Pahang. 450 dari tentera ini lengkap dengan senjata Rifel. Walaupun beliau menang dalam semua pertempuran dalam perang gerilanya terhadap sasaran Inggeris di Pahang namun beliau terpaksa berundur ke Kelantan, Terengganu dan Pahang demi menjaga hati Sultan. Beliau menghentikan serangannya terhadap Inggeris kononnya itulah yang diminta oleh Sultan Ahmad kepada wakilnya dalam satu perundingan yang dianjurkan oleh Sultan ketika itu (lihat Memoir Abdullah C.D Bhg 2 hal. 63).

Ada juga kisah beliau telah ke Thailand kerana tidak mahu bertembung dengan askar Inggeris kerana tersinggung setelah mendapat tahu bahawa Sultan telah menggelar dirinya sebagai “si celaka durhaka” berikutan keengganannya mematuhi dasar cukai yang diperkenalkan oleh Wise dan Clifford di Pahang.

Menurut buku-buku sejarah di sekolah, undang-undang darurat telah diistiharkan apabila tiga orang peladang getah Inggeris telah ditembak mati di sebuah ladang di Sungai Siput oleh PKM. Buku yang sama tidak menyebut bahawa tiga hari sebelum itu, Inggeris telah menembak 10 buruh India yang melancarkan demontrasi di Batu Gajah. Walau bagaimanapun kedua-dua insiden ini bukanlah sebab sebenar yang mendorongan pengisytiharan darurat.

Sebab sebenarnya ialah apabila Inggeris melihat rakyat yang dipimpin oleh aktivis progresif telah bersatu dengan teguh dan melaung-laungkan semboyan Merdeka di bawah gabungan PUTERA-AMCJA yang dipengerusikan oleh Pak Sako. Semangat Merdeka di bawah gabungan ini merebak di seluruh pelusuk tanah air dan membakar semangat rakyat hingga Inggeris menjadi begitu bimbang.

Haji Ishak Muhammad atau dikenali sebagai Pak Sako

Sebelum darurat diistiharkan, parti dan pertubuhan-pertubuhan Patriotik-Demokrasi seperti PKMM, PKM, API, AWAS, Hisbul Muslimin dan sebagainya telah diharamkan. Dalam masa dua hari sahaja beribu-ribu pemimpin dan aktivis patriotik-demokratik telah ditangkap di seluruh negara dan digiring ke penjara. Ramai dari mereka terdiri daripada pemimpin-pemimpin Melayu kerana kelekaan mereka terhadap rancangan ini.

Ramai di siksa, malah ramai juga mati di tali gantung atas sebab dituduh bersubahat dengan komunis. Aktivis Tionghua, lebih peka dan menyelamatkan diri. Mereka masuk ke hutan dan melancarkan perang gerila. Pengharaman dan penangkapan beramai-ramai pemimpin Melayu telah memberi laluan yang mudah kepada UMNO yang pada ketika itu di bawah pimpinan Sir Onn Jaafar yang lebih bersetuju dengan kelangsungan pentadbiran British di Malaya.

Gerakan Kemerdekaan sebenarnya telah berkembang sejak tahun 1920an lagi oleh Dato’ Bahaman dan para pengikutnya di Benta. Benta suatu ketika pernah menjadi pengkalan suara merdeka menentang British di Pahang. Slogan ‘Merdeka’ adalah suara yang boleh menyatupadukan rakyat dan mengancam rancangan British untuk terus menguasai kekayaan di Malaya. Justeru itu pemimpin dan pertubuhan yang bersemboyankan Merdeka dianggap subversif hinggalah berlaku penangkapan besar-besaran pada 18-19 Jun 1948 dan seterusnya.

UMNO pada ketika itu bersemboyankan “Hidup Melayu” dan bukan Merdeka. Semboyan ini disenangi oleh Inggeris yang mengamal dasar pecah-perintah. Bukti sikap lunak UMNO terhadap Inggeris dapat dilihat ketika rombongan Sir Onn Jaafar ke London pada tahun 1951, hanyalah menyentuh tentang soal pelajaran dan jawatan dalam polis diperingkat ASP sahaja dan tidak langsung menyebut soal merdeka walaupun gelombang merdeka begitu hangat diperjuangkan oleh PUTERA-AMCJA. (Mustapha Hussain – Malay Nasionalism Before UMNO, hal 342)

Selepas 1948-1960, UMNO telah meneruskan undang-undang yang sama iaitu ISA - Tahanan tanpa bicara, juga sebuah peperangan baru pasca merdeka terhadap seteru politiknya atas nama mengancam keamanan.

ISA bukanlah timbul dari otak Melayu malah saduran strategi memerangi dan melumpuhkan musuh politik dalam sebuah negara yang dipanggil demokrasi berparlimen yang telah diwarisi dari British bagi tujuan survival politik bangsawan Melayu.

Seperti biasa golongan ulama’ fulus ternakan burjuis Melayu tetap berdiam diri melihat akta bertentangan dengan Islam ini. Ulama fulus ini lebih berminat berdebat soal tahi cicak dan soal sah-batal tidak air sembahyang daripada melawan kemungkaran yang lebih besar seperti ISA. Mereka berfatwa kerana tembolok dan malah sanggup berdoa untuk roh-roh askar British yang gugur


(68) DATO BAHAMAN PERJUANGAN HALAU PENJAJAH

AMANAT PEJUANG BAHAMAN KEPADA REJIMEN KE-10


Jangan menyerah diri kepada musuh, biarlah mati di dalam hutan, jantan sebagai pahlawan.”

“Jangan percaya kepada pembesar-pembesar Melayu kita yang menjadi kakitangan British itu. Itulah sebabnya mengapa peperangan Bahaman telah menderita kekalahan”.

“Haruslah kamu semua menyokong Rejimen Ke-10 melancarkan peperangan terhadap British, sekali-kali jangan berkhianat, siapa berkhianat akan disumpah dan akan celakalah seumur hidupnya.”

angkatan perang dato bahaman
100 tahun lebih yang lalu, daerah Temerloh pernah berkobar pemberontakan kaum tani Melayu melawan penjajah British di bawah pimpinan Datok Bahaman. Pemberontakan yang bermula di daerah Temerloh itu dengan cepat merebak ke seluruh Negeri Pahang.

Pada masa itu kaum tani di sana di bawah pimpinan Datok Bahaman telahpun mengenal sifat-sifat pencerobohan dan niat jahat penjajah British yang hendak merompak kekayaan bumi tanah air dan hendak menghamba abdikan rakyat.

Yang paling dirasakan mereka ialah sejak dari mula lagi British telah menggunakan kekuatan merampas hak-hak milik tanah dari kaum tani dan mengenakan cukai tanah serta merampas kebebasan kaum tani membuka tanah-tanah yang baru. Tindakan penjajah British ini benar-benar telah melanggar kepentingan asasi kaum tani.

Perasaan tak puas hati yang demikianlah telah membangkitkan perasaan amarah yang meluap-luap sehingga mereka bangkit memberontak terhadap penjajah British.
para pejuang Datok Bahaman
Walaupun pemberontakan itu dengan cepat telah berkembang ke seluruh negeri, akan tetapi disebabkan pengkhianatan-pengkhianatan daripada golongan berkuasa dan Datok Purba Jelai, maka akhirnya pemberontakan itu telah gagal.

Walaupun pemberontakan itu telah gagal, tetapi kerana kepentingan asasi kaum tani telah dirosaki, maka perasaan dendam amarah rakyat terutama kaum tani tetap membara seperti api dalam sekam selama puluhan tahun lamanya—menunggu ketika akan meletus sahaja. Begitupun, kadang-kadang muncul juga di sana sini kebangkitan-kebangkitan kaum tani melawan penjajah British.

Begitulah halnya pada tahun 1929, tiba-tiba balai polis Merpatih diserang dan ditawan oleh sekumpulan kaum tani yang bersenjatakan raifel yang ditawan mereka di dalam peperangan Bahaman dahulu.
Apabila Rejimen Ke-10 melancarkan perjuangan bersenjata melawan British pada tahun 1948, maka segala dendaman nasional kaum tani yang selama ini terpendam itupun meletus semula seperti api menyala di padang lalang.

Memang penguasaan penjajah British selama ratusan tahun di Malaya itu bukan suatu yang sia-sia bagi penjajah, di samping merompak sumber kekayaan tanah air kita, penjajah juga telah memupuk entah berapa banyak anjing-anjing buruannya, duduk bersama orang ramai di kampung-kampung menjadi mata dan telinga penjajah.

Akan tetapi, bagaimanapun seruan-seruan: Tumbangkan penjajah British! Rebut Kebebasan! Berjuang untuk kemerdekaan! Dengan cepat telah meresap ke dalam lubuk hati rakyat sehingga telah menjadi kebanggaan nasional, lalu mereka bangkit dengan semangat dendaman nasional yang tinggi. Di mana-mana, Rejimen Ke-10 telah mendapat sambutan rakyat, ada yang mendermakan wang ringgit, barang-barang makanan, bahkan ada yang menyerahkan anak-anak tersayang sebagai ganti dirinya turut serta ke dalam perjuangan bersenjata melawan penjajah British.

Pada tahun 1949, di Kuala Krau terdapat seorang tua yang telah berumur dalam lengkongan 75 tahun, pernah turut serta dalam perang Bahaman melawan British. Dia juga adalah penyokong setia Pak Sako. Bila mendengar Rejimen Ke-10 telah melancarkan peperangan terhadap penjajah British, pejuang veteran itu dengan serta merta menjadi segar dan gagah, tubuh badannya menjadi ringan.

Dia memanggil wakil Rejimen Ke-10 datang ke rumahnya. Dalam pertemuan itu, dia menerangkan pengalaman-pengalamannya sewaktu berperang melawan penjajah bersama Datok Bahaman dahulu.Sebagai amanat, katanya: “sebagai seorang yang pernah turut di dalam peperangan rakyat begitu, saya faham betul segala macam kesukaran yang akan ditempuh”.

Dia berkali-kali menegaskan “jangan menyerah diri kepada musuh, biarlah mati di dalam hutan, jantan sebagai pahlawan.” Dia berpesan lagi: “Jangan percaya kepada pembesar-pembesar Melayu kita yang menjadi kakitangan British itu. Itulah sebabnya mengapa peperangan Bahaman telah menderita kekalahan”.

Pada hari itu juga dia menyuruh semua anak cucunya berkumpul. Dia berpesan : “Haruslah kamu semua menyokong Rejimen Ke-10 melancarkan peperangan terhadap British, sekali-kali jangan berkhianat, siapa berkhianat akan disumpah dan akan celakalah seumur hidupnya."

Begitulah semangat peperangan di zaman Bahaman telah menjadi kebanggaan kepada generasi-generasi muda yang mewarisi tradisi mulia revolusioner itu.
Begitulah juga dalam praktiknya, Rejimen Ke-10 tak pernah terlintas akan menyerah diri kepada penjajah British dan anjing-anjing buruannya. Pada awal tahun-tahun 60-an, awan mendung menyelubugi revolusi Malaya, pihak Jawatankuasa Pusat PKM pernah mengeluarkan tawaran pengunduran diri dari perjuangan kepada sesiapa yang uzur, lanjut usia atau yang tidak mahu meneruskan perjuangan lagi. Tawaran itu dijawab sebagai “Walaupun terpaksa mati dipangkal banir, perjuangan akan diteruskan!

Dicatat oleh Mat Amin pada 05:29

Label: Pahlawan Kemerdekaan, perjuangan kemerdekaan, Rejimen Ke-10 TRM

Saturday, April 14, 2012

KITA ORANG MELAYU HARI INI

Artikel dari majalah Kenchana, Jan 1947

KITA, ORANG MELAYU HARI INI!

Dengan chogan kata di atas kita memperingatkan kepada semua kaum Melayu supaya jangan tertipu terperlemah dan terperangkap oleh pehak yang hendak menggunakan diri kita faedah mereka.

Dari mula dunia terkembang, orang Melayu telah berserah tonggang nasib-nya hitam puteh kepada tangan Y.M.M. dan Y. berhormat dan akhir-nya nasib orang Melayu jatoh sejatoh-jatohnya dan menerima menjadi Nasib Kaum Terjajah yang lemah sekali di dalam dunia ini, di-bawah Pemerintah Kerajaan Inggeris.

Kejatohan Melayu ini dan kelemahan Melayu ini salah-nya terpulang kepada Penganjor Melayu yang sudah-sudah ia-itu yang tergamak menjual-kan Tanah Ayer Melayu dan menukar-kan nyawa Melayu kepada wang dan kesenangan mereka yang mana akhir-nya seperti yang kita nampak Orang Melayu jatoh melepek.

Perang Dunia Kedua menyedar-kan kaum Melayu kembali dan kerana itu terbitlah perasaan “Kita Orang Melayu Hari Ini” yaani berhak bersuara, kerana menjaga dan membetol-kan masib kita di atas tanah ayer kita.

Oleh itu U.M.N.O. (Pekembar) M.N.P. (Pekemam) bukanlah arti-nya dipunyai oleh ketua-ketua itu sendiri ialah dipunyai oleh orang ramai Melayu hari ini. Jadi dengan itu sewajib-nya apa-apa keputusan yang hendak dibawa oleh U.M.N.O. atau M.N.P. untok pengetahuan pemerintah atau diketengahkan kepada ramai mahulah dipersetuju-kan oleh orang Melayu ‘am.

Jangan-lah terjadi seperti sekarang yang sudah terjadi ia itu: Malayan Union terjadi dengan pekerjaan Sultan-Sultan sendiri dan kemudian Malayan Union ditukar-kan kepada Federation dengan ranchangan Sultan2 dan Penganjor2 itu sendiri, di sini ada-kah bermaana orang Melayu hari ini puas hati dengan langkah asalkan Kaum Bangsawan-nya sahaja puas hati? Kita nampaknya tidak begitu!

Orang Melayu tidak puas hati dengan apa yang telah dijalankan oleh Penganjor2-nya, kerana orang Melayu ramai yang dahulu-nya bersama menolak Malayan Union itu bukan meminta ditukar dengan Federation yang akan menjadikan orang Melayu di-pechah2kan oleh ber-Johor, ber-Perak, ber-Pahang dan lain2 ia-lah orang Melayu berkehendakkan Malaya bagi orang Melayu yang tujuan-nya membetolkan dan membaik-kan nasib orang Melayu dalam semua perengkat dan dalam serba serbi.

Sebab itu kita sudah nampak bayang2-nya orang Melayu tidak puas hati kepada penganjor2-nya yang chuba membelakang-kan muslihat orang Melayu ramai.

Dalam sementara itu kita harap orang Melayu hari ini berdiri-lah sebagai orang Melayu yang tidak redza nasib-nya di-perjudi-kan oleh Penganjor2 nya kerana keuntongan pada lain pehak, tetapi orang Melayu sendiri akan tergadai dan terima hidup melarat.


Sumber: Majalah ‘Kenchana’, Bilangan 1, Jan 1947

PERJUANGAN KITA DI ALAF BARU

Perjuangan kita di alaf baru sesuai dengan kenyataan dalam al Quran bahawa

Pada kisah para nabi terdapat pengajaran

Itu pengajaran yang global berlandaskan pedoman Ilahi

Al Quran kalamullah tidak sesekali menolak sejarah. Allah memperihal betapa banyaknya bangsa dan tamadun besar yang hilang kerana berbuat kemungkaran di atas muka bumi.

Kisah itu diulang-ulang dalam Al Quran untuk diambil pengajaran supaya manusia tetap ingatkan peringatan Allah.Jangan sesekali mensyirikkannya.

Firman Allah dalam surah Al 'Araf yang maksudnya sekiranya penduduk sesuatu qariah beriman dan beramal salih,nescaya Kami akan turunkan rahmat dari langit dan pancarkannya dari bumi.

Malangnya bangsa kita sering lupakan sejarah.Sehingga Dr M pemimpin bangsa Melayu yang terkenal pernah berkata
Melayu Mudah Lupa

Kami bentangkan betapa pentingnya sejarah untuk dikaji.Sebagaimana kata seorang penulis Indonesia yang tersohor :

Orang yang tidak tahu sejarah tidak akan faham masa kini.Apa lagi masa depan.Semua kesalahan yang kita lakukan selama ini kerana kita tidak faham sejarah -Pramoedya Ananta Toer

Blog ini akan meninjau tulisan-tulisan masa lalu yang bernas,memahami dan menganalisis tulisan masa kini dan mempersiapkan bangsa kita menghadapi masa depan.

Di bawah dihidangkan beberapa tulisan.Kita mulakan dengan dua buah tulisan yang keluar pada tahun 1947 untuk dinilai oleh pembaca.


Artikel dari majalah Kenchana, Jan 1947

KITA, ORANG MELAYU HARI INI!

Dengan chogan kata di atas kita memperingatkan kepada semua kaum Melayu supaya jangan tertipu terperlemah dan terperangkap oleh pehak yang hendak menggunakan diri kita faedah mereka.

Dari mula dunia terkembang, orang Melayu telah berserah tonggang nasib-nya hitam puteh kepada tangan Y.M.M. dan Y. berhormat dan akhir-nya nasib orang Melayu jatoh sejatoh-jatohnya dan menerima menjadi Nasib Kaum Terjajah yang lemah sekali di dalam dunia ini, di-bawah Pemerintah Kerajaan Inggeris.

Kejatohan Melayu ini dan kelemahan Melayu ini salah-nya terpulang kepada Penganjor Melayu yang sudah-sudah ia-itu yang tergamak menjual-kan Tanah Ayer Melayu dan menukar-kan nyawa Melayu kepada wang dan kesenangan mereka yang mana akhir-nya seperti yang kita nampak Orang Melayu jatoh melepek.

Perang Dunia Kedua menyedar-kan kaum Melayu kembali dan kerana itu terbitlah perasaan “Kita Orang Melayu Hari Ini” yaani berhak bersuara, kerana menjaga dan membetol-kan masib kita di atas tanah ayer kita.

Oleh itu U.M.N.O. (Pekembar) M.N.P. (Pekemam) bukanlah arti-nya dipunyai oleh ketua-ketua itu sendiri ialah dipunyai oleh orang ramai Melayu hari ini. Jadi dengan itu sewajib-nya apa-apa keputusan yang hendak dibawa oleh U.M.N.O. atau M.N.P. untok pengetahuan pemerintah atau diketengahkan kepada ramai mahulah dipersetuju-kan oleh orang Melayu ‘am.

Jangan-lah terjadi seperti sekarang yang sudah terjadi ia itu: Malayan Union terjadi dengan pekerjaan Sultan-Sultan sendiri dan kemudian Malayan Union ditukar-kan kepada Federation dengan ranchangan Sultan2 dan Penganjor2 itu sendiri, di sini ada-kah bermaana orang Melayu hari ini puas hati dengan langkah asalkan Kaum Bangsawan-nya sahaja puas hati? Kita nampaknya tidak begitu!

Orang Melayu tidak puas hati dengan apa yang telah dijalankan oleh Penganjor2-nya, kerana orang Melayu ramai yang dahulu-nya bersama menolak Malayan Union itu bukan meminta ditukar dengan Federation yang akan menjadikan orang Melayu di-pechah2kan oleh ber-Johor, ber-Perak, ber-Pahang dan lain2 ia-lah orang Melayu berkehendakkan Malaya bagi orang Melayu yang tujuan-nya membetolkan dan membaik-kan nasib orang Melayu dalam semua perengkat dan dalam serba serbi.

Sebab itu kita sudah nampak bayang2-nya orang Melayu tidak puas hati kepada penganjor2-nya yang chuba membelakang-kan muslihat orang Melayu ramai.

Dalam sementara itu kita harap orang Melayu hari ini berdiri-lah sebagai orang Melayu yang tidak redza nasib-nya di-perjudi-kan oleh Penganjor2 nya kerana keuntongan pada lain pehak, tetapi orang Melayu sendiri akan tergadai dan terima hidup melarat.


Sumber: Majalah ‘Kenchana’, Bilangan 1, Jan 1947


Artikel dari majalah Kenchana, Feb 1947

RA’YAT JELATA MELAYU JANGAN DI-BODOHKAN TERUS!

Soal Malayan Union sudah dapat dirobohkan oleh Orang Melayu Am apabila mereka ketahui Sultan2 Tanah Melayu menjualkan Kemerdahekaan Negeri Melayu kapada Kerajaan Inggeris dengan tidak berondeng dan tidak setahu Rakyat Jelata Melayu… dan kemudian orang Melayu dapat menebusnya samula.

Tetapi malang Tanah Melayu yang baharu ditebus oleh Rakyat Jelata itu telah hendak dimasokkan samula ka dalam lukah Inggeris oleh Raja2 Melayu dan Penganjor2 yang memikirkan dirinya telah penoh berkuasa diatas Rakyat Jelata, dan pekerjaan nya ini juga dengan tidak berondeng dengan Rakyat Jelata dan telah pandai2 berondeng dengan Kerajaan Inggeris meranchangkan pula PERSAKUTUAN NEGERI MELAYU, konon!

Apabila chadangan Persakutuan Negeri2 Melayu didzahirkan kepada pengetahuan ramai, Rakyat Jelata Melayu telah sama membantah tidak bersetuju dengan ranchangan itu kerana chadangan itu tidak berondeng dengan Rakyat Jelata dan chadangan dalam Perlembagaan baharu itu tidak berdasar Democratic! Chadangan itu tetap
tidak mementingkan nasib Ra’yat Melayu Jelata, chadangan itu hanya untok faedah Raja2 Melayu dan Orang Besar2nya sahaja.

Bertambah malang nasib orang Melayu Jelata, apabila mereka bersuara membantah chadangan Perlembagaan baharu itu lalu mereka ditudoh dan dichap
Menderhaka oleh Raja2 Melayu dan orang2 Besar serta Penganjor2nya yang hendak menipu rakyat Jelata.

Pehak Kenchana tetap berdiri disisi Rakyat Melayu Jelata dan mempertahankan Kedaulatan Rakyat, dengan sebab itu bersama2 dengan Rakyat Melayu Jelata membantah chadangan Perlembagaan baharu Malaya itu tidak sah karena ranchangan itu hanya diperbuat oleh 12 orang yang dilantek oleh Kerajaan Inggeris, bukan dari Rakyat Jelata ya’ni tidak berdasarkan Kedaulatan Rakyat.

Kerajaan Inggeris, Raja2 Melayu dan orang2 Besar Melayu patut mesti sedar, yang Rakyat Jelata Melayu masa ini bukan boleh disamakan seperti masa sabelum perang yang baharu lepas ini atau saperti orang Melayu zaman dahulu kala hanya menyerahkan nasibnya dan jiwa raganya kapada Raja2nya, atau kapada orang Besarnya.

Orang Melayu hari ini telah sedar dan mengerti tanggongan mereka kaatas Tanah Ayernya dan Bangsa nya, mereka tidak redza nasib mareka diperjudikan oleh Rajanya atau oleh Penganjornya kerana kepentingan diri Raja2 dan Penganjor2 itu, mereka berkehendakkan kemuliaan hidup dan Kemerdahekaan Bangsa dan Tanah Ayernya.

Sebab itu disini Kenchana berseru dan menchadangkan kapada Kerajaan Inggeris dan Raja2 Melayu serta Penganjor2 Melayu iaitu berhubong dengan pemerentah Malaya yang akan datang mestilah memakai Kedaulatan Rakyat yang sebenar, serta chorak pemerentahan yang hendak diadakan itu mestilah berundeng dan dapat persatujuan dari Rakyat Melayu Jelata, bukan hanya dengan Raja2 dan orang Besar2 Melayu yang hanya mementingkan diri mereka sahaja.

Disini juga Kenchana memperingatkan kapada saudara2 sebangsa dan satanah ayer supaya lebeh ingat dan berjaga2 kena pelemah dari Kerajaan dan bangsa2 dagang yang hendak masokkan kita kedalam perangkap mereka, orang Melayu mesti sedar iaitu orang Melayu boleh merdaheka dan layak merdaheka saperti bangsa yang merdaheka dalam dunia ini.

Lagi Kenchana memperingatkan yang bangsa kita terjajah beratus tahun lamanya, dan kita telah berserah bulat nasib kita katangan Raja2 dan orang Besar2 dan akhirnya hingga hari ini kita telah nampak terang yang nasib bangsa Melayu amat burok iaitu:
bodoh, miskin, melarat dan terhempet, kalah dalam segala perjuangan,

Maka semuanya ini kerana hanya kita perchaya dan ta’at kepada KETUA2 kita yang tidak mengindahkan nasib bangsanya, sebab itu bangkitan kita pada kali ini mestilah disusun dengan rapat dan rapi supaya jangan dapat lagi diperjudikan oleh Pengkhianat Bangsa dan Tanah Ayer yang bertopengkan pura2 menjadi PENYELAMAT BANGSA.


Sumber: Majalah ‘Kenchana’, Bilangan 2, Feb 1947